Harian Sederhana, Depok – Menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Depok 2020, sejumlah nama sudah mencuat seperti Mohammad Idris dan Pradi Supriatna yang saat ini menjabat sebagai Wali dan Wakil Wali Kota Depok pun dikabarkan akan maju kembali dalam kontestasi tersebut.
Bukan hanya kedua nama itu saja, ada juga beberapa figur yang santer dikabarkan akan bertarung dalam perhelatan politik lima tahunan ini. Seperti Imam Budi Hartono, Hendrik Tangke Allo, Farabi A Rafiq, dan Hafid Nasir.
Terakhir nama musisi Virgiawan Listanto atau Iwan Fals mencuat dan digadang-gadang layak menjadi pemimpin di Kota Depok. Pelantun lagu “Bongkar” ini bertengger di posisi teratas dalam survei bertajuk “Persepsi Netizens Pra Pilkada Depok 2020”.
Survei itu sendiri diselenggarakan oleh Klinik Digital Vokasi Universitas Indonesia (UI) bersama salah satu kelompok penggiat media sosial, Depok 24 Jam. Selain nama Iwan Fals, ada juga nama Mohammad Idris dan Pradi Supriatna yang saat ini masih menjabat sebagai Wali dan Wakil Wali Kota Depok.
Pada survei ini juga terungkap kalau respon masyarakat terhadap elektabilitas partai sangatlah kecil. Bahkan cenderung sosok calon yang diinginkan bukanlah melihat dari partai, asal daerah, atau dengan kata lain siapa saja asal bisa membawa perubahan untuk Kota Depok.
Kepala Klinik Digital Vokasi UI, Devie Rahmawati menuturkan melalui survei kualitatif dengan Google Form terjaring 2.800 responden yaitu masyarakat Kota Depok yang menyatakan bahwa sosok calon wali kota mendatang yang diinginkan bukanlah melihat dari partai, maupun asal daerah.
“Jadi mereka tidak memperdulikan asal usul si pempimpin. Namun, intinya dia mampu menyelesaikan masalah di Kota Depok secara nyata seperti permasalahan kriminal maupun pendidikan. Tidak peduli dia dari kalangan mana atau bukan orang Depok asli, yang terpenting mampu menjawab pertanyaan (permasalahan di Depok-red) tadi,” tuturnya, Sabtu (14/09).
Kemudian, kepuasan akan birokrasi juga terukur hanya dua persen. Dengan kata lain, banyak ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintah saat ini, oleh sebab itu diartikan Devie, Kota Depok kini butuh sosok baru yang penuh dengan gagasan dan mendukung kaum milenial.
“Pemerintah Kota Depok, hingga kini mewakili kelompok tertentu selama kurang lebih 15 tahun. Sehingga, butuh oksigen baru. Masyarakat membutuhkan sosok muda dengan patokan umur 30 – 40 tahun, karena yang ternyata dilirik adalah kecepatannya dalam mengambil keputusan maupun program. Kalau dari segi popularitas Iwan Fals paling difavoritkan oleh netizen untuk masuk dalam bursa Pilkasa,” bebernya.
Survei tersebut juga diakui Devie sama seperti Pilkada serentak tahun lalu, yang memilih Calon Gubernur Jawabarat. Hasilnya, dinilai reliable dalam merepresentasikan kehendak warga Kota Depok.
“Berdasarkan, penelitian kita survei tahun lalu juga sama pemilihan masyarakat terhadap Partai sangat sedikit hanya mencapai dua persen saja,” tegasnya.
Selanjutnya, dirinya berharap hasil penelitian tersebut mampu menjadi acuan oleh Partai Politik di Kota Depok, guna menjawab keresahan dan keinginan masyarakat. “Survei ini juga telah digunakan di luar negeri dan itu telah dibuktikan, hasilnya hampir sama seperti di real count,” imbuh Devie.
Hasil Survei
Pada survei ini tiga tokoh menempati posisi teratas dalam survei bertajuk “Persepsi Netizens Pra Pilkada Depok 2020”. Ketiganya adalah Iwan Fals, Mohammad Idris dan Pradi Supriatna. Iwan Fals sendiri mendapatkan persentase sebesar 13 persen, sedangkan Mohammad Idris memperoleh 12 persen, unggul dua persen atas Pradi Supriatna.
“Iwan Fals seperti diketahui seorang public figure. Namanya besar di kancah musik. Sementara Idris dan Pradi adalah Wali-Wali Kota Depok yang memimpin sekarang. Keduanya diuntungkan karena intensitas sosialisasi kepada masyarakatnya tinggi,” tutur Devie.
Devie Rachmawati mengatakan yang perlu dicermati adalah mayoritas sikap warganet alias netizen. Berdasar hasil siginya, ada 48 persen yang tak begitu peduli tentang siapa yang memimpin Depok selanjutnya.
“Mereka hanya menginginkan yang terpenting pemimpin ke depan bisa lebih baik. Membenahi persoalan-pesoalan krusial seperti kriminalitas, pendidikan berkualitas, dan kesehatan,” jelas Devie.
Dalam kesempatan itu, Devie Rachmawati juga mengungkapkan permasalahan yang paling banyak dibahas netizen. Pertama, soal tingkat kriminalitas dengan persentase 29 persen, disusul kemudian pendidikan berkualitas sebesar 22 persen, dan penanganan banjir yakni 11 persen.
“Ini bisa menjadi masukan bagi siapapun yang akan bertarung dalam kontestasi Pilkada Depok nanti,” katanya.
Adapun selain ketiga nama di atas, dalam survei juga muncul nama-nama seperti Nuroji (Politikus Senior Gerindra dan Anggota DPR-RI), Hendrik Tangke Allo (Ketua DPC PDI Perjuangan/DPRD Depok), Imam Budi Hartono (Politikus PKS/DPRD Jawa Barat), dan Babai Suhaimi (Politikus PKB /DPRD Depok). Mereka masing-masing mendapat persentase tiga persen, kecuali Nuroji yang memperoleh empat persen.
“Klinik Digital Vokasi UI mengamati perilaku pengguna Instagram akun Depok 24 Jam. Total ada sekitar 2800 responden yang diriset. Pemilihan akun Depok24Jam dilatari sejumlah faktor. Diantaranya jumlah followers yang tinggi, sekitar 250 ribu akun, dimana kesemuanya bersifat organik atau murni alias bukan bot/robot,” pungkasnya.
Mirip Survei PKS
Sementara itu Imam Budi Hartono selaku Bakal Calon Wali Kota Depok dari PKS mengatakan survei hasil Persepsi Netizens Pra Pilkada Depok 2020 mirip dengan survei yang dilakukan di internal partainya.
Namun, ia mengaku yang membedakan adalah nama Iwan Fals dan Rano Karno. Pada survei internal PKS muncul nama Rano Karno, sedangkan pada survei Klinik Digital Vokasi Universitas Indonesia ada nama Iwan Fals.
“Apa yang ada di survei itu mirip dengan yang dilakukan di internal kami. Di internal memang muncul tujuh tokoh yakni Mohammad Idris, Pradi Supriatna, Nuroji, HTA, Babai dan ada nama saya juga di survei internal. Yang ada di kami itu nama Rano Karno, bukan Iwan Fals,” tuturnya.
Dia pun menyebut dari beberapa nama tokoh Depok sudah mengerucut menjadi tiga nama. Hal ini dikarenakan tiga nama lainnya seperti Nuroji, HTA dan Babai diprediksi tidak maju dalam Pilkada Depok 2020.
“Tiga nama itu memang diprediksi tidak mencalonkan karena berhadapan dengan aturan yakni harus mundur dari posisi sebagai anggota dewan. Seperti diketahui, HTA dan Babai saat ini menjabat sebagai anggota DPRD Kota Depok, sedangkan Nuroji terpilih kembali sebagai anggota DPR RI,” bebernya.
Walaupun dirinya juga anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Imam mengaku siap meletakkan jabatannya untuk maju dalam Pilkada Depok 2020 bila dipercayakan oleh partai. “Saya siap bila mendapatkan kepercayaan dari DPP PKS, meskipun harus melawan petahana,” tandasnya. (*)